Hidup yang Benar-benar Hidup

Ndy

MENGAMATI perilaku/kebiasaan kelompok masyarakat merupakan ‘obyek wisata’ yang menurut gue cukup menarik saat melancong. Seperti perilaku waktu menumpang kendaraan umum.

Tahu kan,  di sini penumpang terbiasa mendekat ke pintu bus/kereta ketika kendaraan hampir sampai tujuan. Bahkan, di tips perjalanan Commuter Jabodetabek, ada pasal yang menyebutkan “Kalau sudah dekat dengan tempat tujuan (lokasi turun) segera merapat ke pintu.”

Definisi ‘hampir’ atau ‘sudah dekat’ di sini relatif. Kadang, masih lumayan jauh pun penumpang sudah meninggalkan posisi awalnya dan merapat ke pintu. Takut susah turun, begitu pasti alasannya. Apalagi kalau bus/kereta dalam keadaan penuh.

Bagaimana di negara lain? Sebenarnya ga banyak berbeda dengan kebiasaan di Belanda. Malah menurut gue, di sana berlebihan. Terutama penumpang kereta.

Di Belanda, hampir ga pernah kereta sampai penuh sesak. Seringnya amat longgar sehingga cukup waktu bagi penumpang untuk bergerak dari posisi awalnya menuju pintu dan turun. Bahkan bila pergerakan itu baru dimulai saat kereta sudah berhenti.

Gue sendiri sampai heran melihat betapa tidak betahnya orang-orang Belanda berada di kereta. Waktu kereta tinggal menuju pemberhentian terakhir aja mereka tetap merapat ke pintu, bergerombol di sana. Padahal kereta masih berjalan dan kira-kira baru lima menitan kemudian sampai ke stasiun.

Kereta commuter Jakarta-Bogor. Seandainya seperti ini terus sebenarnya enak naik KRL. Mimpi kali yee.

Nah, kalau yang berbeda jauh adalah di London. Gue yang udah tersetting ‘mendekat ke pintu’, otomatis bergerak saat sudah mendekati tempat tujuan. Jadi ketika naik ‘tube’, istilah MRT di London, gue tidak melupakan kebiasaan itu.
Pada satu waktu, kebetulan tube-nya sedang agak penuh. Stasiun tujuan sudah dekat, gue hendak berdiri, tapi orang di sebelah agak menghalangi.

“Excuse me,” kata gue meminta jalan.
“Wait until the train completely stops,” ujar dia dengan nada menegur sambil menambahkan bahwa gue akan punya cukup waktu untuk turun.

Malu sendiri gue. Memang kalau diamati lebih seksama, para penumpang ‘tube’ rata-rata baru mulai bergerak saat kereta sudah berhenti.

Untung gue gampang terpesona dengan logat Inggris. Logat (bahasa) Prancis yang dipuja banyak orang justru bagi gue biasa aja. Tapi kalau logat Inggris…hmmm, gue sampai suka duduk berdiam di halte hanya untuk mendengar Londoners bercakap-cakap.

Jadi teguran penumpang tadi ga terasa pedas, malah terdengar indah. Berharap dia bicara lebih panjang lagi :D

Selain adab turun dari kendaraan umum, ada lagi yang cukup menarik diperbandingkan. Yaitu kebiasaan bercakap-cakap. Orang-orang Eropa, khususnya Eropa barat kurang suka bercakap-cakap ramai saat di dalam kereta. Mereka lebih memilih membaca buku.

Sebaliknya, orang Indonesia sangat suka ngobrol ramai di manapun. Tak terkecuali di kereta. Kami sampai punya anekdot bahwa orang Eropa baru akan ribut ngobrol serta tertawa keras ketika mabuk atau setengah mabuk. Sedangkan orang Indonesia, minum air mineral aja udah cukup ‘mabuk’ untuk tertawa-tawa sambil mengobrol :D

Tapi jangan lupa lihat-lihat. Di Belanda ada gerbong-gerbong khusus bertanda S besar di jendela. S kependekan dari ‘stilte’ alias ‘silence’. Di gerbong itu, penumpang tidak boleh mengobrol apalagi berbuat gaduh.

Kalau naik gerbong bertanda 'S' kayak gini, pakai bahasa isyarat aja ngobrolnya.

Gue pernah kena tegur soalnya…hehehehe…akibat ngobrol diselingi tertawa dengan teman. Maka berbahagialah hidup di Indonesia. Manusia-manusianya masih benar benar hidup, dinamis. Ga seperti robot :p

****

Leave a Reply